Wings of Hope

Love and attention is power! if all of us are willing to share love and attention towards people around us, then life will be happier and more meaningful.

March 21, 2010

Simple Question, Hard Answer...

hari ini terik banget, sang surya sepertinya lagi "panas dalam"... beda banget ama suasana hati saya sekarang... entah kenapa saya teringat dengan apa yang sudah saya lewatin selama 5 semester belakangan. ada yang bilang kalo orang mau dekat ajal mikirnya yang lalu-lalu terus. semoga ini bukan pertanda yang aneh-aneh itu ~_~a

saya teringat akan seorang cewe. cewe pertama yang bisa membuat saya mengerti kalau sayang itu tidak harus memiliki. sebelum saya bercerita, mungkin ada yang bertanya, mengapa saya menulis sayang? mengapa bukan cinta?

saya tidak suka menggunakan kata cinta, saya lebih senang menggunakan kata sayang. bagi saya sayang itu melebihi cinta. bagi saya cinta itu kesamaan perasaan dari dua orang yang saling menyayangi. sementara, sayang tidak memerlukan hal itu. sayang itu tidak menuntut balas, tidak menuntut pengertian, hanya perasaan "aneh" yang kita rasakan kepada seseorang yang berarti untuk kita. contoh orang tua. sejauh yang saya tahu orang tua itu menyayangi anaknya. bukan mencintai anaknya. orang tua tidak pernah menuntut balas terhadap perasaan sayangnya itu bukan?

cukup soal sayang dan cintanya. kalau diteruskan bisa nda selesai-selesai postingan ini.

saya mengenal dia sejak pertama kali saya masuk kuliah. awalnya sih, cuma senang melihat dia kalau lagi senyum. lucu soalnya XD tapi entah kenapa, lama-lama saya jadi sayang ama dia. aneh memang, ga ada angin ga ada hujan, kenapa bisa tiba-tiba sayang yah? masalah perasaan, siapa yang tahu sih ^.~

saya mulai dekat dengan dia. semester berikutnya saya baru tahu kalau ternyata dia sudah ada pasangan @_@ tapi hal ini tidak mnyurutkan niat saya untuk tetap dekat dengan dia. dalam pikiran saya saat itu asal saya bisa tetap dekat dengan dia, itu saja sudah lebih dari cukup untuk saya. waktu pun berlalu dan kami tetap berhubungan lewat pesan singkat.

tapi koq rasanya semakin hari semakin sakit yah? akhirnya saya memutuskan untuk ngobrol dengan teman-teman saya. berbagai masukan dan nasehat dari mereka saya dengarkan. aneh-aneh memang cara mereka memandang masalah saya. ada yang cuek bebek, ada yang benar-benar perhatian sampai berpikiran jauh banget. akhirnya saya memutuskan untuk tetap menjalani seperti biasa.

satu semester lagi berlalu. saya semakin merasa aneh dengan apa yang saya rasakan. mungkin dia pun menyadarinya, lalu suatu ketika obrolan kami mengarah ke masalah itu. saya kelepasan omong tentang perasaan saya. sejak saat itu, akhirnya saya berusaha menjauhkan diri dari dia. awalnya memang susah. tetapi waktu membantu saya untuk melupakan perasaan saya kepadanya.

dia mengajarkan banyak hal. tentang kesetiaan, tentang memandang masalah dari berbagai sisi... tentang perasaan yang tidak bisa dipaksakan... tentang kenyataan yang dihadapi dalam hidup ini... banyak...banyak sekali yang saya dapatkan darinya... terutama tidak selamanya rasa sayang itu harus mendapatkan balasan dari orang yang disayangi...

saya sempat berpikir...saya tidak akan lagi membuka hati untuk orang lain...tapi...waktu mempertemukan saya dengan my lovely twetty ^^ sepertinya tragis sekali...di saat saya sedang drop-dropnya, muncul seseorang yang memiliki masalah mirip dengan saya... dan entah kenapa ga ada kata lain apa? dari tadi entah kenapa mulu... saya peduli dengannya, dan ingin membantu dia menyelesaikan masalah yang dihadapinya...

saya teringat salah satu pertanyaan yang paling susah untuk saya jawab. jauh lebih susah dari pada soal matematika integral lipat 3, ataupun penurunan rumus gelombang di fisika, ataupun rumus logam alkali di kimia..., ataupun masalah DNA di biologi...

pertanyaannya cukup simple :
"jika disuruh memilih, kamu memilih kehilangan orang yang kamu sayangi, atau kamu lebih memilih kehilangan orang yang menyayangi kamu?"


sampai sekarang saya belum bisa menjawab hal ini. teman-teman saya banyak yang menjawab, lebih memilih kehilangan orang yang saya sayangi dari pada orang yang menyayangi saya, karena orang yang saya sayangi belum tentu menyayangi saya, semetara saya bisa belajar menyayangi orang yang menyayangi saya.

suatu jawaban yang sangat sangat sangat aneh untuk orang "awam" seperti saya. karena yang saya tahu, perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari. perasaan berasal dari hati, bukan dari hasil pembelajaran ataupun pemikiran. apakah rasa sayang kita kepada orang tua itu sesuatu yang diajarkan oleh guru kita di sekolah? ataukah rasa sayang kita terhadap adik-adik kita itu sesuatu yang diajarkan oleh orang tua kita? kalau ada diantara pembaca sekalian yang menjawab IYA, (maaf saja...) alangkah malang sekali nasibmu nak...alangkah malangnya...jika hatimu harus belajar, sama seperti otakmu...

saat pertama kali mendapatkan pertanyaan ini, saya bingung dan akhirnya saya asal jawab saja. saya tidak akan memilih salah satu dari kedua pilihan itu, saya lebih memilih saya mati dari pada harus memilih salah satu dari kedua pilihan itu. tetapi sepertinya jawaban saya ini terlihat egois...sangat egois... apa ini adil untuk orang-orang yang menyayangi saya? apa yang nanti mereka rasakan saat kehilangan orang yang mereka sayangi? apa mereka tidak berhak memilih...?

semakin saya pikirkan jawaban dari pertanyaan ini, semakin saya bingung...dan akhirnya sampai sekarang saya tidak menemukan jawabannya...

bagaimana dengan teman-teman pembaca?

find your answer,
unwithering_hope a.k.a 8thHeaven

No comments:

Post a Comment