beberapa orang menganggap hidup itu sudah digariskan, ditakdirkan, kita hanya perlu menjalaninya... suatu pemikiran yang aneh menurut saya pribadi... apakah benar begitu? apakah hidup seorang manusia sudah digariskan sejak awal dia lahir? atau bahkan kelahirannya itu sendiri adalah sebuah skenario yang sudah digariskan?
sampai-sampai muncul istilah nasib dan takdir... entah apalagi bedanya kedua kata ini... sampai sekarang saya masih menganggap kedua kata ini sama... kebetulan saya memiliki teman-teman yang memiliki hobi yang sama dengan saya, yaitu berdebat dan adu argumen. kami sering menghabiskan waktu untuk mengadu argumen. meskipun hanya iseng, tapi kadang-kadang ada argumen yang dapat kami ambil makna positifnya dan itu semakin membuka wawasan berpikir kami.
tapi untuk masalah ini...entah kenapa, sampai sekarang kami belum menemukan titik terang. padahal topiknya sendiri sudah aneh, yang lebih aneh lagi, kenapa kami masih terus mengadu argumen tentang topik ini...
salah satu cuplikan perdebatan kami :
saya : takdir dan nasib itu sama koq...
teman 1 : beda lho. dalam bahasa inggris aja udah beda. satu fate satu destiny.
saya : sama aja toh, kan arti nya bisa diartiin sama...
teman 2 : trus bedanya yang lain ada nda?
teman 1 : takdir itu tidak bisa dirubah, tapi nasib bisa dirubah
teman 2 : lalu contoh kasus nya bagaimana?
sementara saya masih diam dan berpikir...
teman 1 : gini contohnya, kalo nasih itu misalnya seseorang kecelakaan, itu sudah nasib dia. padahal kalau dia hati-hati, dia tidak akan kecelakaan. sementara takdir, contohnya seseorang terlahir di keluarga miskin.
teman 2 : ooo... hm...gimana yah... de, koq kamu diam aja? (temen saya memanggil saya)
lalu saya pun menjawab : kalau begitu, dari mana kamu bisa membedakan nasib dan takdir?
apakah kalau seseorang kecelakaan, sudah pasti itu nasib dia? siapa tahu dia memang sudah ditakdirkan untuk celaka. lalu soal keluarga miskin...dari mana kamu tahu itu takdir? siapa tahu itu nasib, dimana kalau dia berusaha mengubah nasibnya, dia bisa bangkit dari kemiskinan.
lalu kedua teman saya pun bingung sendiri membenarkan apa yang saya katakan.
begitulah kira-kira cuplikan pembicaraan kami. tetapi, saat saya mengetik postingan ini...saya kembali berpikir (dasarnya saya suka mikir), apa yang dikatakan teman saya itu benar juga.
apakah kalau seorang yang terlahir di keluarga miskin, jika dia berusaha keras apakah ada jaminan dia bisa bangkit dari kemiskinannya? kalau tidak berarti memang sudah takdir dia jadi miskin? tetapi setelah saya selesai mengetikkan kalimat itu, saya kembali berpikir...siapa tahu, diusaha selanjutnya dia bisa bangkit setelah berkali-kali gagal. dengan demikian, kemiskinan adalah nasib dia, yang bisa dirubah jika berusaha... akhirnya saya sampai pada 1 kesimpulan...
takdir dan nasib itu memang berbeda (bertentangan dengan pendapat awal saya).
tetapi, manusia tidak mengetahui, apa yang menjadi takdir, dan apa yang menjadi nasib mereka.
manusia hanya bisa menjalani hidup ini. baik atau buruk nya suatu kehidupan manusia itu, dia lah yang menentukan. jika ada manusia yang mengatakan, "nasib, nasib..." atau "sudah takdir kita begini..." salah besar menurut saya... nasib dan takdir, tidak ada yang tahu selain Dia seorang... manusia tidak memiliki opsi lain, selain menjalani hidup ini...
best regards,
unwithering_hope a.k.a 8thHeaven
sampai-sampai muncul istilah nasib dan takdir... entah apalagi bedanya kedua kata ini... sampai sekarang saya masih menganggap kedua kata ini sama... kebetulan saya memiliki teman-teman yang memiliki hobi yang sama dengan saya, yaitu berdebat dan adu argumen. kami sering menghabiskan waktu untuk mengadu argumen. meskipun hanya iseng, tapi kadang-kadang ada argumen yang dapat kami ambil makna positifnya dan itu semakin membuka wawasan berpikir kami.
tapi untuk masalah ini...entah kenapa, sampai sekarang kami belum menemukan titik terang. padahal topiknya sendiri sudah aneh, yang lebih aneh lagi, kenapa kami masih terus mengadu argumen tentang topik ini...
salah satu cuplikan perdebatan kami :
saya : takdir dan nasib itu sama koq...
teman 1 : beda lho. dalam bahasa inggris aja udah beda. satu fate satu destiny.
saya : sama aja toh, kan arti nya bisa diartiin sama...
teman 2 : trus bedanya yang lain ada nda?
teman 1 : takdir itu tidak bisa dirubah, tapi nasib bisa dirubah
teman 2 : lalu contoh kasus nya bagaimana?
sementara saya masih diam dan berpikir...
teman 1 : gini contohnya, kalo nasih itu misalnya seseorang kecelakaan, itu sudah nasib dia. padahal kalau dia hati-hati, dia tidak akan kecelakaan. sementara takdir, contohnya seseorang terlahir di keluarga miskin.
teman 2 : ooo... hm...gimana yah... de, koq kamu diam aja? (temen saya memanggil saya)
lalu saya pun menjawab : kalau begitu, dari mana kamu bisa membedakan nasib dan takdir?
apakah kalau seseorang kecelakaan, sudah pasti itu nasib dia? siapa tahu dia memang sudah ditakdirkan untuk celaka. lalu soal keluarga miskin...dari mana kamu tahu itu takdir? siapa tahu itu nasib, dimana kalau dia berusaha mengubah nasibnya, dia bisa bangkit dari kemiskinan.
lalu kedua teman saya pun bingung sendiri membenarkan apa yang saya katakan.
begitulah kira-kira cuplikan pembicaraan kami. tetapi, saat saya mengetik postingan ini...saya kembali berpikir (dasarnya saya suka mikir), apa yang dikatakan teman saya itu benar juga.
apakah kalau seorang yang terlahir di keluarga miskin, jika dia berusaha keras apakah ada jaminan dia bisa bangkit dari kemiskinannya? kalau tidak berarti memang sudah takdir dia jadi miskin? tetapi setelah saya selesai mengetikkan kalimat itu, saya kembali berpikir...siapa tahu, diusaha selanjutnya dia bisa bangkit setelah berkali-kali gagal. dengan demikian, kemiskinan adalah nasib dia, yang bisa dirubah jika berusaha... akhirnya saya sampai pada 1 kesimpulan...
takdir dan nasib itu memang berbeda (bertentangan dengan pendapat awal saya).
tetapi, manusia tidak mengetahui, apa yang menjadi takdir, dan apa yang menjadi nasib mereka.
manusia hanya bisa menjalani hidup ini. baik atau buruk nya suatu kehidupan manusia itu, dia lah yang menentukan. jika ada manusia yang mengatakan, "nasib, nasib..." atau "sudah takdir kita begini..." salah besar menurut saya... nasib dan takdir, tidak ada yang tahu selain Dia seorang... manusia tidak memiliki opsi lain, selain menjalani hidup ini...
best regards,
unwithering_hope a.k.a 8thHeaven
No comments:
Post a Comment