bagi teman-teman yang mengikuti blog saya, mungkin akan heran dengan judul ini. ya, ini postingan kedua yang khusus saya dedikasikan untuk seorang teman yang belum dapat membuat keputusan dalam hidupnya.
"bingung". kata pertama yang selalu terlintas dalam benak saya setiap kali dia bercerita tentang masalah yang dihadapinya. masalah yang dari dulu masih membayanginya, dan entah kenapa, sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari masalah ini. saya tidak mengatakan kalau ini masalah yang sepele. saya tahu dengan baik, saya "kenal" dengan masalah ini, karena saya juga pernah "berteman" dengan masalah ini.
masalah yang tidak akan pernah habis jika dibahas, masalah perasaan manusia. [kenapa manusia memiliki perasaan? apakah manusia memerlukannya?] pertanyaan yang terdengar bodoh bagi mereka yang "dapat" dengan mudah menjawab pertanyaan seperti ini.
seperti yang pernah saya tulis di postingan saya terdahulu, hidup manusia itu seperti roda. kadang di atas, kadang di bawah. ketika berada di atas, apakah pertanyaan[*] di atas pernah muncul atau terlintas di benak kalian? saya yakin, kalian tidak akan pernah memikirkannya. tetapi ketika roda hidup berputar ke arah yang tidak kita inginkan? pertanyaan-pertanyaan ini sepertinya menjadi suatu "tradisi" yang "wajib" dipertanyakan.
dengan bangganya kita menuturkan kata "stres", "bosan hidup", atau apalah semacamnya. setiap masalah pasti ada cara penyelesaiannya. tinggal bagaimana kita menyikapi masalah dan mencari solusinya. saya pernah menulis kalimat yang mungkin terkesan "pedas".
"manusia hidup dari usaha, tanpa usaha (maaf) = mati"
setiap manusia akan mendapat "hasil" yang sepadan dengan "usahanya". bukan berarti saya mengatakan kalau orang-orang yang "menderita" itu karena mereka tidak berusaha. mereka berusaha, tapi apakah mereka "sadar" dengan apa yang mereka lakukan?
kembali ke masalah awal. masalah perasaan.
teman-teman semua pasti pernah merasa patah hati bukan? (kalau ga pernah coba dulu deh. manusia tidak akan mengerti apa itu cinta sebelum "disakiti" oleh cinta.)
patah hati, dua kata yang tidak asing lagi bagi saya. kata-kata ini sering banget di "kumandangkan" oleh teman-teman saya. saya sendiri pernah "mencicipi" bagaimana rasanya patah hati. berat memang, tapi ini lah cinta. saya bukan seorang filsuf yang dapat menjelaskan panjang lebar tentang cinta, saya juga bukan pujangga yang dapat menuangkan perasaan cinta dengan amat indahnya. saya hanya manusia biasa yang sedikit "tahu" bagaimana harus menyikapi "sesuatu" yang dinamakan cinta.
"lupakanlah orang itu, masih banyak orang lain yang lebih baik dari dia."
apakah kalimat ini benar? apakah manusia "normal" dapat melakukannya? saya pribadi tidak sanggup untuk melakukannya. apakah dengan "melupakan" segala masalah akah selesai? tidak. manusia tidak akan pernah bisa melupakan orang yang pernah dicintainya. ketika ada orang yang berkata : "saya akhirnya bisa melupakan dia!" apakah orang itu benar-benar melupakan orang yang pernah dicintainya?
manusia hanya bisa "mengubur" kenangan bersama orang yang pernah mereka cintai. semakin keras usaha mereka untuk "melupakan" orang yang pernah mereka cintai, sama artinya dengan "semakin dalam mereka mengubur kenangan akan orang itu". dari luar memang masalah tidak terlihat lagi, tapi di dalamnya? "masalah" itu tetap ada, sekalipun terkubur. "masalah" yang terkubur ini mungkin tidak akan menjadi masalah lagi, jika "penjaga kubur"nya setia menjaga "kubur" itu, ya yang saya maksud adalah orang yang "berperan" sebagai "pengganti"(sebelumnya saya minta maaf kalau postingan ini akhirnya menjadi cerita horror, just kidding, back to topic).
tapi apakah dengan begitu masalahnya selesai? tidak juga. masalah tersebut tetap ada. hanya waktu yang tahu kapan "kubur" itu akan terbuka lagi. syukur kalau "kubur" itu tidak terbuka lagi. yang ingin saya tekankan di sini adalah, "melupakan bukan jalan untuk menyelesaikan masalah". yang seharusnya dilakukan adalah "berusaha menerima kenyataan". kenyataan bahwa dia bukan untukku, kenyataan bahwa dia memilih orang lain, dan kenyataan bahwa kita harus menerima kenyataan itu.
ibaratnya sebuah paku ditancapkan ke kayu. semakin kita mencintai seseorang, paku tersebut menancap semakin dalam. tetapi ketika orang itu pergi meninggalkan kita (paku dicabut dari kayu), akan menyisakan luka (akan terlihat lubang bekas paku di kayu itu).
orang yang "melupakan" akan berusaha menambal lubang itu dengan cat (berpura-pura tidak ada apa-apa). tetapi orang yang berusaha menerima kenyataan, akan membiarkan lubang itu terbuka dan mencari "paku" yang dapat ditancapkan kembali ke lubang itu (biarkan seseorang untuk datang, menghapus, dan menyembuhkan luka hatimu).
memang ini bukan sesuatu yang mudah, tapi setiap manusia pasti dapat melakukannya. tinggal apakah manusia itu "sadar" dengan apa yang harus dilakukannya atau tidak. apakah dengan merasa "stres", "bosan hidup" masalah-masalah tersebut akan hilang? anda hanya akan buang-buang energi dalam hidup anda.
tetapi kemudian ada masalah baru, manusia itu "sadar" dengan apa yang harus dilakukannya, tetapi dia tidak "sadar" dengan apa yang dilakukannya. ga usah munafik, saya sendiri sering melakukan hal ini. contoh gampang saja, saya tahu besok ujian dan saya tahu saya harus belajar hari ini. tetapi saya malah pergi jalan-jalan dengan teman-teman saya. kalau masalahnya seperti ini, tidak ada orang yang bisa menolong manusia ini, hanya dia yang bisa menolong dirinya sendiri...
back to your senses,
unwithering_hope a.k.a 8thHeaven
"bingung". kata pertama yang selalu terlintas dalam benak saya setiap kali dia bercerita tentang masalah yang dihadapinya. masalah yang dari dulu masih membayanginya, dan entah kenapa, sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari masalah ini. saya tidak mengatakan kalau ini masalah yang sepele. saya tahu dengan baik, saya "kenal" dengan masalah ini, karena saya juga pernah "berteman" dengan masalah ini.
masalah yang tidak akan pernah habis jika dibahas, masalah perasaan manusia. [kenapa manusia memiliki perasaan? apakah manusia memerlukannya?] pertanyaan yang terdengar bodoh bagi mereka yang "dapat" dengan mudah menjawab pertanyaan seperti ini.
seperti yang pernah saya tulis di postingan saya terdahulu, hidup manusia itu seperti roda. kadang di atas, kadang di bawah. ketika berada di atas, apakah pertanyaan[*] di atas pernah muncul atau terlintas di benak kalian? saya yakin, kalian tidak akan pernah memikirkannya. tetapi ketika roda hidup berputar ke arah yang tidak kita inginkan? pertanyaan-pertanyaan ini sepertinya menjadi suatu "tradisi" yang "wajib" dipertanyakan.
dengan bangganya kita menuturkan kata "stres", "bosan hidup", atau apalah semacamnya. setiap masalah pasti ada cara penyelesaiannya. tinggal bagaimana kita menyikapi masalah dan mencari solusinya. saya pernah menulis kalimat yang mungkin terkesan "pedas".
"manusia hidup dari usaha, tanpa usaha (maaf) = mati"
setiap manusia akan mendapat "hasil" yang sepadan dengan "usahanya". bukan berarti saya mengatakan kalau orang-orang yang "menderita" itu karena mereka tidak berusaha. mereka berusaha, tapi apakah mereka "sadar" dengan apa yang mereka lakukan?
kembali ke masalah awal. masalah perasaan.
teman-teman semua pasti pernah merasa patah hati bukan? (kalau ga pernah coba dulu deh. manusia tidak akan mengerti apa itu cinta sebelum "disakiti" oleh cinta.)
patah hati, dua kata yang tidak asing lagi bagi saya. kata-kata ini sering banget di "kumandangkan" oleh teman-teman saya. saya sendiri pernah "mencicipi" bagaimana rasanya patah hati. berat memang, tapi ini lah cinta. saya bukan seorang filsuf yang dapat menjelaskan panjang lebar tentang cinta, saya juga bukan pujangga yang dapat menuangkan perasaan cinta dengan amat indahnya. saya hanya manusia biasa yang sedikit "tahu" bagaimana harus menyikapi "sesuatu" yang dinamakan cinta.
"lupakanlah orang itu, masih banyak orang lain yang lebih baik dari dia."
apakah kalimat ini benar? apakah manusia "normal" dapat melakukannya? saya pribadi tidak sanggup untuk melakukannya. apakah dengan "melupakan" segala masalah akah selesai? tidak. manusia tidak akan pernah bisa melupakan orang yang pernah dicintainya. ketika ada orang yang berkata : "saya akhirnya bisa melupakan dia!" apakah orang itu benar-benar melupakan orang yang pernah dicintainya?
manusia hanya bisa "mengubur" kenangan bersama orang yang pernah mereka cintai. semakin keras usaha mereka untuk "melupakan" orang yang pernah mereka cintai, sama artinya dengan "semakin dalam mereka mengubur kenangan akan orang itu". dari luar memang masalah tidak terlihat lagi, tapi di dalamnya? "masalah" itu tetap ada, sekalipun terkubur. "masalah" yang terkubur ini mungkin tidak akan menjadi masalah lagi, jika "penjaga kubur"nya setia menjaga "kubur" itu, ya yang saya maksud adalah orang yang "berperan" sebagai "pengganti"(sebelumnya saya minta maaf kalau postingan ini akhirnya menjadi cerita horror, just kidding, back to topic).
tapi apakah dengan begitu masalahnya selesai? tidak juga. masalah tersebut tetap ada. hanya waktu yang tahu kapan "kubur" itu akan terbuka lagi. syukur kalau "kubur" itu tidak terbuka lagi. yang ingin saya tekankan di sini adalah, "melupakan bukan jalan untuk menyelesaikan masalah". yang seharusnya dilakukan adalah "berusaha menerima kenyataan". kenyataan bahwa dia bukan untukku, kenyataan bahwa dia memilih orang lain, dan kenyataan bahwa kita harus menerima kenyataan itu.
ibaratnya sebuah paku ditancapkan ke kayu. semakin kita mencintai seseorang, paku tersebut menancap semakin dalam. tetapi ketika orang itu pergi meninggalkan kita (paku dicabut dari kayu), akan menyisakan luka (akan terlihat lubang bekas paku di kayu itu).
orang yang "melupakan" akan berusaha menambal lubang itu dengan cat (berpura-pura tidak ada apa-apa). tetapi orang yang berusaha menerima kenyataan, akan membiarkan lubang itu terbuka dan mencari "paku" yang dapat ditancapkan kembali ke lubang itu (biarkan seseorang untuk datang, menghapus, dan menyembuhkan luka hatimu).
memang ini bukan sesuatu yang mudah, tapi setiap manusia pasti dapat melakukannya. tinggal apakah manusia itu "sadar" dengan apa yang harus dilakukannya atau tidak. apakah dengan merasa "stres", "bosan hidup" masalah-masalah tersebut akan hilang? anda hanya akan buang-buang energi dalam hidup anda.
tetapi kemudian ada masalah baru, manusia itu "sadar" dengan apa yang harus dilakukannya, tetapi dia tidak "sadar" dengan apa yang dilakukannya. ga usah munafik, saya sendiri sering melakukan hal ini. contoh gampang saja, saya tahu besok ujian dan saya tahu saya harus belajar hari ini. tetapi saya malah pergi jalan-jalan dengan teman-teman saya. kalau masalahnya seperti ini, tidak ada orang yang bisa menolong manusia ini, hanya dia yang bisa menolong dirinya sendiri...
back to your senses,
unwithering_hope a.k.a 8thHeaven
So intinya apa De? gw ga menemukan inti masalahnya hehe...^^
ReplyDeleteiyaaa..... nice phi.....keep it up... nancep phi... menyakitkan........tp ya bener apa adanya sih...... hiks.....
ReplyDelete@dar : dari awal mpe abis udah inti kek nya dar ^^ maklum sy ga pandai merangkai kata2, menyusun tulisan mulai dari intro, klimaks, n anti-klimaks XD jadi saya menulis "seakan-akan" ga ada anti-klimaks (meniru salah satu penulis yang semua tulisannya tidak ada anti-klimaks), anti-klimaksnya masing-masing pembaca yang menyimpulkan sendiri =)
ReplyDelete@pi : ==" maap kalo kata2 na nancep, berpikir lbh dewasa yah ^^ tenang aja, cowo bukan cuma dia koq pi =) hehehehe kalo ada apa2 cerita lagi aja =) inbox selalu terbuka (kecuali ga ada pulsa --")
tp tar ditancepin lg........ hiks.... bnr sih bnr...tp tetep.... nancep..... ga enak phi T.T
ReplyDelete==" udah berusaha menerima aja ^^
ReplyDeleteiya d.... T.T
ReplyDelete=)
ReplyDelete